Jakarta – Perisai Prabowo melancarkan serangan keras terhadap narasi yang menyebut Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad sebagai “operator kekuasaan” dalam Satgas Pemulihan Pasca Bencana. Narasi tersebut dinilai sebagai bentuk distorsi fakta yang tidak hanya keliru, tetapi juga mencederai akal sehat publik.

Ketua Harian Perisai Prabowo, Kamir Abdullah, menegaskan bahwa tudingan tersebut adalah propaganda murahan yang dipaksakan untuk membangun persepsi negatif terhadap DPR.
“Ini bukan kritik. Ini framing sesat. Menyebut DPR sebagai operator kekuasaan itu ngawur, tidak berdasar, dan memalukan secara intelektual,” tegas Kamir dihadapan sejumlah awak media di Jakarta. Jumat (19/6)

Ia menilai, pihak yang menyebarkan narasi tersebut sengaja menggiring opini seolah-olah DPR telah melanggar batas konstitusional, padahal yang terjadi justru sebaliknya: DPR sedang memperkuat fungsi pengawasan dalam situasi darurat.

“Kalau memahami konstitusi saja gagal, jangan bicara seolah paling tahu. DPR tidak menjalankan proyek, tidak mengeksekusi anggaran, tidak mengambil alih pemerintah. DPR mengawal—itu mandatnya,” ujarnya tajam.

Kamir bahkan menyebut kritik tersebut sebagai bentuk kemalasan berpikir yang dibungkus dengan retorika demokrasi.

“Ini kritik instan, dangkal, dan malas. Semua disederhanakan demi sensasi. Padahal rakyat butuh kerja nyata, bukan opini yang menyesatkan,” katanya.

Menurut Perisai Prabowo, kehadiran Dasco dalam Satgas adalah bentuk tanggung jawab politik agar pemulihan pascabencana tidak tersendat oleh birokrasi yang lambat atau koordinasi yang lemah.

“Kalau DPR tidak turun, nanti dibilang abai. Sekarang DPR memastikan semuanya bergerak, malah dituduh macam-macam. Ini jelas bukan kritik jujur, tapi serangan politik berkedok analisis,” lanjut Kamir.

Ia juga memperingatkan bahwa narasi semacam ini berbahaya karena berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara di tengah kondisi krisis.

“Yang kalian rusak itu bukan DPR, tapi kepercayaan rakyat. Ini tidak bisa dianggap remeh,” tegasnya.

Kamir menutup pernyataannya dengan nada keras, menantang pihak-pihak yang terus menggulirkan narasi tersebut.

“Kalau tidak paham, belajar. Kalau punya data, buka. Tapi jangan terus memproduksi framing liar yang menyesatkan. Negara ini butuh solusi, bukan provokasi murahan,” pungkasnya.

Liputan : Yudo

By admin